Celoteh: Daplang


 Ichmaster    07 Feb : 03:44
 None    Renungan

Celoteh: Daplang

Celoteh: Daplang

Dulu, ketika masa remaja – masa pencarian jati diri kata sebagian orang, saya pernah mengalami masa sulit menerima “perbedaan”. Kalau sudah A ya A. Yang tidak A perlu disingkirkan. Karena hal itu berarti menyalahi aturan. Beda berarti salah. Seiring berjalannya waktu, bertambahnya pengalaman hidup dan semakin luasnya pengertian akan makna keterbatasan dan ketidaksempurnaan, lambat laun keangkuhan itu terkikis. Lamat – lamat bisa memahami dan menerima setiap jenis perbedaan yang ada. Entah apa penyebabnya, yang jelas kehidupan itu sendirilah yang mengajarkannya, sehingga saat ini bisa melihat perbedaan sebagai suatu keindahan. Sungguh anugrah Yang Esa tak terkira.

Namun, di luar sana masih banyak orang yang terkurung dalam sempit pemahaman kehidupan ini. Orang belum tersadar dan tercerahkan oleh indah dan luasnya kehidupan. Bahkan, tak jarang yang malah menolak menerimanya. Mengakui saja pun tak. Padahal sering kali kehidupan mengajarkan hal yang jelas – jelas penuh makna akan kebesaran dan keagungannya. Maka sungguh beruntung orang yang diberi hikmah oleh Allah, bisa memandang dunia ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Allah berfirman: “Allah menganugerahkan hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia kebaikan yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (QS Al-Baqoroh: 269)

Alhamdulillah, dalam hingar – bingar kehidupan seperti ini, beruntunglah Allah berkenan memberikan kebesaran pada diri ini. Di samping bisa menerima perbedaan, ternyata tumbuh keyakinan juga dalam diri ini bahwa di dunia ini memang penuh dengan perbedaan. Dan perbedaan – perbedaan itulah yang semakin menambah harmoninya dunia. Tak mungkin dunia ini menjadi seragam, satu suara, atau satu pendapat. Inilah kenyataan yang ada, seiring firman Allah dalam kitabNya;

Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. “ (QS Al-Anfal: 63)

Maka, seolah orang yang tidak bisa menerima perbedaan seperti mengingkari hukum Allah itu sendiri.

Dalam situasi semacam ini, bukan lagi masalah benar dan salah. Tak perlu bersitegang mencari kemenangan. Perang urat – syaraf pun tak pantas, diaras kematangan pemahaman hukum. Yang dibutuhkan hanya sebuah kearifan; kepercayaan diri bahwa yang saya lakukan adalah benar. Adapun yang Anda lakukan, itu masalah Anda dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan kita tetap bertegur – sapa, bersama – sama, saling hormat dan bertetangga dalam kesehariannya.

Oleh karena itu, saya selalu menikmati setiap terjadi perselisihan dan perbedaan, seperti penentuan hari raya, baik Iedul Fitri maupun Iedul Adha. Asyik, melihat bagaimana orang berpendapat dan berargumen mempertahankan keyakinannya yang obyeknya cuma satu yaitu penentuan hilal. Kita bisa melihat, alih – alih menerima pendapat orang lain, kebanyakan orang ingin agar orang lain menerima pendapatnya yang benar. Padahal sekali lagi asalnya hanya satu. Tetapi karena multitafsir orang lupa untuk melihat secara seksama. Ambil contoh penentuan hilal, walau bisa dihitung secara keilmuwan berbasis teknologi, validasinya tetap harus diru’yat – diteropong dengan mata telanjang (dibantu teleskop juga boleh) seiring sabda Nabi SAW – ketika ditutupi mendung (artinya tidak bisa melihat hilal), maka genapkanlah (menjadi 30 hari). Hal semacam ini selanjutnya bisa berimplikasi terhadap puasa sunnah: Arafah. Saya teringat, betapa arifnya Pak Ustad di dusun saya dulu. Untuk menghindari multi tafsir semacam ini, dia menjelaskan bahwa Hari Arafah adalah hari ketika Nabi Ibrahim tahu dan yakin dengan mimpinya bahw Allah memerintah untuk menyembelih Ismail, yaitu tepat tanggal 9 Dzulhijjah. Ia tidak menjelaskan Puasa arafah hubungannya dengan wukuf di Arafah, karena ini bukan di Mekah. Sedikit banyak ini menghilangkan bias yang mungkin bisa timbul kapan saja bagi para jemaatnya. Sedangkan pada mimpi hari pertama disebut hari tarwiyah, sebab Nabi Ibrahim masih ragu – ragu apakah mimpinya itu benar untuk menyembelih anaknya atau itu hanya bisikan syaitan.

Bagi yang percaya dengan perhitungan para ahli falah, ya silahkan kerjakan sesuai keyakinan itu. Bukan lagi kita manusia yang menghukumi benar – salah, sebab nanti semua orang akan ditanya dari apa – apa yang dia lakukan di dunia ini. Yang perlu dilakukan bagi kita yang sadar akan hidup ini, seperti menghidupkan sign di padatnya Jakarta ini. Walau jelas sudah memberikan lampu sign mau belok ke kiri, terkadang kita perlu merentangkan tangan – daplang – memberikan isyarat mau belok ke kiri. Tidak sepenuhnya kita percaya dengan teknologi yang diciptakan manusia, tetapi kita perlu ketegasan untuk keselamtan diri dan orang lain yang tidak mau tahu orang di sekitarnya. Itulah pertahanan terbaik.

Semoga bermanfaat,

Faizunal Abdillah




0 Comments

News Categories