Celoteh: Selilit


 Ichmaster    07 Nov : 03:01
 None    Renungan

Celoteh: Selilit

Celoteh: Selilit


Di mata sebagian orang, mungkin saya adalah orang yang 'nyebelin'. Sudah wajahnya tidak enak dipandang, tingkahnya ndesani, ngomongnya kenceng kayak orang marah, penampilan tidak rapi dan beberapa hal lain yang semua itu saya sadari keberadaannya, sebagai suatu kekurangan yang harus diperbaiki. Maunya sih, bisa merubah diri. Menjadi pribadi yang santun, ngomong sak omong enak didengar, priyayi yang grapyak (ramah), teman yang tidak mboseni, berpenampilan trendy dan berakhlakul karimah. Kadang kala sendiri, saya juga merenung sebenarnya sudah ada kemajuan berarti pada diri ini dari apa yang saya rasakan sebagai kekurangan sekarang ini dibandingkan dengan dulu. Walaupun masih saja banyak orang yang mencap masih seperti dulu dan kembali membangkitkan memori saya saat ini, bahwa saya masih seperti dulu. Ya sudahlah, apa mau dikata. Gawan bayi.


Ada beberapa kenangan yang masih melekat erat diingatan ini. Rasanya baru kamarin. Padahal sudah puluhan tahun lalu. Bahkan, sebagian yang ditanya malah sudah almarhum. Memang benar orang bilang pengalaman adalah guru terbaik, dengan catatan bagi orang yang mau dan menyadarinya. Mau menjadikan sebagai pelajaran atau guru. Menyadari bahwa itu adalah hal terbaik dalam perjalan hidup ini. Jika tidak, tak lain hanya sebuah peristiwa biasa. Tak lebih dan tak kurang. Malah-malah tak terngiang sedikit pun dalam benak. Bablas angine.


Selesai acara nasehat, waktu itu saya berkesempatan bicara langsung dengan sang penasehat. (Saya juga tidak tahu kenapa bisa ketemu dengan penasehatnya waktu itu) Tanpa basa-basi, mumpung ada kesempatan, saya langsung bertanya; "Maaf Pak, bisa amal sholih menuliskan dalil masalah baca Quran yang Bapak bacakan tadi? Dan dari mana sumbernya?"


"Oh iya, dengan senang hati," Begitu jawabnya sambil mengambil buku dan pena yang saya sodorkan.


Saya menunggu di sampingnya sambil memperhatikan dengan penuh seksama keadaan sekitar. Ada keraguan dalam diri si Bapak untuk segera menuliskannya. Mungkin karena tidak biasa menulis, bisa jadi atau faktor lain. Beberapa kali tampak mengerutkan wajah untuk mengingat referensinya. Dan bisa jadi terkejut, dengan pertanyaan dan permintaan tak terduga dari saya; sudah diminta menuliskan, ditambah minta sumbernya lagi. Hal yang jarang terjadi.


Setelah sekian waktu permintaan itu rampung. Sambil mengembalikan buku plus penanya, si Bapak berkata, "Ini Dik, saya agak lupa di akhir lafadhnya saailin apa tsawabiin ya? Insya Allah kapan-kapan kalau ingat saya infokan lagi segera. Dan sumbernya juga."


Dalil itu berbunyi kurang lebih seperti ini, "Barangsiapa yang menyibukkan padanya membaca quran atau dzikir pada Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya sebaik-baik orang yang meminta atau mendapatkan pahala."


Betapa senangnya saya waktu itu. Perhatikan redaksi hadits di atas. Sungguh menggetarkan. Walau belum paripurna, walau masih ada kekurangan membuat semangat terus menyala. Membaca dan mencari. Mempersungguh membaca Qur'an dan tak kenal lelah mencari duduk sebenarnya Hadits itu. Lama saya mencari, baru beberapa waktu yang lalu saya terantuk sebuah atsar yang menyebutkan dengan jelas dan lengkap keberadaan hadits itu.


Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang menyibukkan diri dengan memuji Allah, Allah akan memberinya di atas harapan orang-orang yang bermohon." (Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid, jld 6: 190)


Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang menyibukkan padanya membaca quran atau dzikir pada Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya di atas harapan orang yang meminta." (Rowahu Tirmidzi)


Ini cuma salah satu contoh. Banyak yang lain. Lama kebiasaan saya ini berjalan. Kepada ulama senior, kepada para penasehat, seakan tak kenal tempat dan waktu, tanpa sungkan saya menanyakan dan minta ilmu dengan cara meminta menyebutkan sumbernya, jika kesempatan itu tiba. Nggak perduli orang lain susah, orang lain repot, orang lain terganggu, yang penting saya mendapatkan apa yang saya inginkan sebagai tambahan ilmu, tentunya. Baru setelah beberapa saat saya tersadar. Sadar ada yang perlu saya cermati lagi. Bahwa umumnya mereka tidak terbiasa dengan pertanyaan seperti pertanyaan saya itu. Alhasil jawaban yang sering saya terima dari para fuqoha itu berupa permohonan maaf atas ketidaksiapan dan kekurangan. Itu masih mending. Yang lebih mengharukan lagi, tak jarang yang secara singkat selalu memberikan jawaban; pokoknya manqulnya begitu. Dengan setengah masygul juga, saya nimpali dalam hati, kalau jawabannya cuma seperti itu; lebih baik tidak usah bertanya atau tanya saja dengan cabe rawit, beres. Pundung ceritanya. Di sinilah titik-balik itu muncul; memberikan stigma negative tentang diri sendiri. Lebih dari sekedar apa yang umumnya orang lain perbuat. Nyebelin.


Dalam kondisi seperti ini, saya membayangkan, tatkala Nabi Ibrohim bertanya kepada Allah tentang cara Allah membangkitkan orang yang mati. Atau tatkala Nabi Musa bertanya bagaimana ia bisa melihat wajah Allah. Bagi orang kebanyakan pertanyaan seperti itu tergolong nyentrik, seolah menunjukkan sebuah "kebodohan" atau sesuatu yang tidak perlu ditanyakan. Meminjam idiom Gus Dur, "Gitu aja kok ditanyakan. Percaya iman, ragu-ragu munafik, tidak percaya kafir." Namun sebenarnya Nabi Ibrahim maupun Nabi Musa mempunyai maksud tertentu dalam rangka meningkatkan keimanannya. Dan simaklah, apa jawaban yang diberikan Allah kepada mereka.


Terlepas dari sikap "urakan" bagi sebagian orang, atau "nyebelin" bagi pribadi tertentu ingatlah bahwa focus utama dalam hal semacam ini sebenarnya adalah bagaimana menjawab. Bukan pada jawabannya. Sebelum menemukan jawaban pasti, prosesi memberikan jawaban akan memberikan dampak luar biasa bagi sang penanya. Sikap yang baik akan memberikan ketenteraman. Intonasi yang lembut membuat kegairahan untuk terus berusaha tak kenal putus asa. Kelegawaan akan membawa diri sang penanya seperti dimulyakan. Dan pancaran kasih - sayang menjadikan aliran semagat tak pernah padam. Jangan sampai jadi selilit, yang hanya menyusahkan dan siap dicampakkan.


Semoga bermanfaat.

Fami




2 Comments

  • arifikimiaunila
    7 years ago

    kesabaran dalah jalan terbaik menjalani kehidupan. Dalam ayat 2 al mulk hidup dan mati yang allah ciptakan menjadi ujian menentukan manusia yang lebih baik amalannya. Semakin sabar dan semakin berat ujian yang dihadapi seorang yang iman menentukan semakin tingginya surga yang dia peroleh. Ingat kepada Allah adalah hiburan terbaik baik dalam keadaan sepi maupun ramai.

    0 0
  • nuid
    7 years ago

    assalamu alaikum
    mgkn byk sdr kita yg py pengalaman yg sprti anda alami.
    kejadian ini semestinya dpt membuka mata kita msh dangkalnya penguasaan ilmu yg kita miliki shg dapuan sbg fuqoha jgn sampai membuat kita cepat puas atau merasa lebih dari yg lain.

    0 0

News Categories