Sejarah Ringan Lalu-lintas Indonesia


 Ichmaster    13 Apr : 15:17
 None    Iptek

Sejarah Ringan Lalu-lintas Indonesia.

Sejarah Ringan Lalu-lintas Indonesia.
Oleh : Fauzan Luthfi

Siang itu jadilah kami bertiga (Saya, Pak Let.Kol.
Polisi Baedhowey, Pak ýYakub Abdullah , Bogor ). Untuk
berangkat menjenguk Mas Idham Suganda ýý(Mubaligh
Bogor) yang sedang sakit di rumahnya di Sukabumi. Saya
kebetulan ýyang menyetir mobil. Sambil menceritakan
perjuangan agama islam, membahas ýbeberapa hukum-hukum
islam, dan juga membahas hukum-hukum lalu lintas ýdan
sejarah-sejarah ringan masalah lalu lintas, dimana Pak
Baedhowey adalah ýahlinya karena beliau adalah seorang
polisi, dia sering juga menjadi Instruktur ýsekolah
dan Training di instansi kepolisian. ý
Beliau bertanya kenapa Nomor polisi Jakarta itu
dikode dengan huruf “B” ýkok tidak huruf “J” ? Inilah
jawaban beliau sendiri……ý

1.Mengapa Nomor Polisi Jakarta itu di kode dengan
Huruf “B” ?.ý

Penggunaan tanda nomor kendaraan bermotor di
Indonesia, terutama di ýJawa, merupakan warisan sejak
zaman Hindia Belanda, yang menggunakan ýkode wilayah
berdasarkan pembagian wilayah karesidenan. Awalnya
tidak ada ýorang Indonesia yang memiliki mobil. Dan
biasanya orang-orang Indonesia yang ýkaya adalah orang
yang tinggal disekitar pelabuhan , mereka biasanya
adalah ýsaudagar nasional dan internasional, yang
kedua adalah orang-orang yg ýmenjadi juragan
perkebunan, sebagai “ndoro” perkebunan tidak heran
bila uang ýmereka banyak.ý
ý Sampailah saatnya orang kaya pertama di Indonesia
memiliki mobil, dan ýorang pertama tersebut adalah
orang Banten (pelabuhan) maka mobilnya di beri ýkode
“A”.di ikuti nomor… nantinya bila ada orang Banten yg
punya mobil tinggal ýnomornya saja yg diberi nomor
urutannya, tetapi kode awalnya tetap “A”. ýSelanjutnya
orang Batavia (betawi, pelabuhan) yang membeli mobil
, sesuai ýurutan abjad, maka mobil orang ini oleh
pemerintah Belanda di beri kode “B” ýdiikuti nomor ……,
selanjutnya semua mobil duta dan consul diberi kode C
yg ýsaat ini menjadi CD. Kemudian seorang “ndoro”
perkebunan di Bandung ýmembeli mobil maka di kode ”
D”, orang kaya Cirebon (pelabuhan) juga ýkemudian
beli, maka “E”, orang kaya Bogor (perkebunan) juga
beli, maka “F”, ýorang kaya Pekalongan (pengusaha
kain) kemudian beli, maka “G”, orang kaya ýSemarang
(pelabuhan) juga beli mobil, maka nomor polisinya
“H”…dst….. ý
Kira-kira pa yang kita pikir tentang Huruf “Z” (Tasik)
dan kota-kota yg ýsudah tidak kebagian abjat alphabet
tunggal ? seperti AA (Kedu)., AB ýý(Jogya)….Apakah
mereka adalah orang-orang kaya belakangan ? belum
tentu ýkarena “Z” untuk Tasik adalah hasil modifikasi
kepolisian belakangan ini ýý…termasuk “W” untuk
Jombang yg sebelumnya menggunakan “L” juga ,sama
ýdengan Surabaya. Tetapi sebagian besar memang
menggambarkan urutan ýorang-orang yg “berhasil kaya”
di Indonesia. …(ha..ha..ha.., untuk orang – orang
ýyang nomor polisi mobilnya dua huruf …peace..
ah…he..he..he..)ý

2.Mengapa Jembatan-2 jalan raya buatan Belanda, tahan
lama ?.ý

Sebenarnya konstruksinya hampir biasa-biasa saja,
tetapi Belanda ýmerancang jembatan, bagaimana mobil yg
akan melaluinya bisa pelan-pelan. ýMaka jalan masuk
jembatan dan keluar jembatan itu harus dibuat menikung
, bila ýperlu malah menikung tajam 90 derajat agar
kendaraan mau-tidak mau ýmengerem kendaraannya.
Alhasil mereka masuk ke jembatan dengan pelan-ýpelan,
keluar jembatan pun mereka pelan-pelan karena jalan
masih menikung. ýAkhirnya jembatanpun menjadi awet.
Bahkan ada yg tahan 100 tahun lebih. ýBandingkan
dengan jembatan-jembatan buatan setelah itu. saat
ini…..ý

3.Mengapa Jarak antar kota di Jawa rata-rata ± 60 km.
ý

Perhatikan : Jakarta – Bogor ± 60 km, Bogor –
Sukabumi ± 60 km , Sukabumi – ýCianjur ± 60 km,
Cianjur – Bogor ± 60 km, Cianjur – Bandung ± 60 km,
Bandung ýý– Garut ± 60 km, Garut – Tasik ± 60 km,
Rangkasbitung – Banten ± 60 km dst… ýý(atau sekitar
60 an lah…he..he.. peace…). Mengapa 60 km ?. Karena
ýPemerintah Belanda saat itu merancang jarak kota,
juga mempunyai peri-ýkehewanan, yaitu memikirkan kuda.
Kuda standard itu setelah berjalan 60 km ýperlu
istirahat besar (beda dengan kuda modif..he..he.. ),
yaitu makan dan ýminum dan istirahat cukup. Nah untuk
bisa minum dan makan, sebaiknya ýditempat itu sudah
ada daerah yg dihuni manusia, sehingga biasanya ada
ýsumur, ladang, lapangan, alun-alun sehingga tersedia
air dan rerumputan yg ýbisa disabit untuk si kuda.ý

4.Mengapa mobil tanpa hidung / moncong dibuat. (Carry,
Zebra, Espass dsb.)ý

Mobil dengan hidung (bagian mesinnya didepan),
sebenarnya lebih ýnyaman dan lebih aman dari pada
mobil tanpa hidung (bagian mesinnya ýdibawah jok
pengemudi), mengapa ?, kedua jenis mobil ini, dengan
kecepatan ýyang sama bila terjadi tabrakan frontal
maka tingkat melukainya thd pengemudi ýakan lebih
parah yg tanpa hidung, dan biasanya menggencet si
pengemudi. ýBerbeda dengan mobil yg punya moncong. ý
Sebagian dari sedan Honda bahkan telah didesign
mengurangi impact ýorang yang ditabrak juga.
Mobil-mobil berhidung zaman dulu umumnya ýbumpernya
full besi, sehingga orang yang tertabrak saat
kecepatan diatas 45 ýkm/jam bisa meninggal. ý
Pada saat pemerintahan Jepang masih berkuasa di
Indonesia , banyak ýorang Indonesia yang mengemudikan
kendaraan mengantuk, hal ini banyak ýmenimbulkan
kecelakaan. Mobil menabrak rumah, pohon bahkan
menabrak ýorang yg sedang berjalan di tepi jalan. Di
sinyalir penyebabnya adalah suasana ýkabin yang cukup
senyap, nyaman, tidak panas, karena mesinnya didepan,
ýditambah lagi pada saat itu si pengemudi banyak yang
kekurangan gizi yg ýberakibat saat mengemudikan
kendaraan sering mengantuk, maklum zaman ýpenjajahan,
kebutuhan gizi amatlah kurang. Para petinggi Indonesia
saat itu ýakhirnya mengusulkan kepada pemerintahan
Jepang agar mendesain mobil ýyang tidak mudah membuat
ngantuk, yaitu yang tidak nyaman, taruh saja ýmesinnya
dibawah pengemudi. Para engineer Jepang terheran-heran
dengan ýusulan ini. Tapi rancangannya tetap
diselesaikan. Jadilah saat itu mobil dengan ýmesin
dibawah pengemudi, agar berisik, tidak nyaman, dan yg
“hot” lagi adalah ýdibawah pengemudi ada pemanas…jadi
deh supirnya pada melek. Kalau masih ýada yang
mengantuk ya memang bawaan bayi kali ya. Juga sang
supir mikir ýterus “mobil ini tidak ada moncongnya
kalau nabrak aku bisa gepeng” (qodar ýya…), setidaknya
ini membuat mereka terjaga saat mengemudi. Saat ini
banyak ýsekali mobil tanpa moncong berkeliaran dijalan
raya, bahkan bisa dikatakan juga ýmobil rakyat. (Untuk
penggemar mobil tanpa moncong….. peace ah….). ý
Inilah sebagian yg saya bisa tangkap dari obrolan
dengan Pak Let.Kol. ýBaedhowey. ….dan tidak terasa
kami sudah memasuki daerah ýsukabumi….sebentar lagi
kami akan tiba dirumah Mas Idham Suganda. ý
Dengan sejarah kadang kita bisa mengenali sesuatu
lebih baik. Untuk itu ýkenalilah sejarah dirimu,
keluargamu.
ýWassalam.ý

Sumber : Milisjokam




0 Comments

News Categories