Celoteh: Budak Teknologi |
| Akhir – akhir ini santer diberitakan “tumbal” teknologi informasi (TI). Yaitu orang – orang yang menjadi korban dampak negatif dari penggunaan teknologi. Karenanya boleh juga dibilang korban penyalahgunaan TI. Ada ABG usia 14 tahun kabur dari rumah dan kencan dengan teman fb yang baru dikenalnya. Mereka menginap beberapa hari di sebuah hotel, sebelum akhirnya ditemukan oleh pihak berwajib. Ada lagi seorang bocah terjun dari lantai 4 sebuah apartemen, terlepas dari pengawasan ibundanya. Telusur punya telusur, ternyata anak tersebut tinggal di rumah sendiri, sebab ibunya sedang asyik main game on line. Ada pula modus penipuan yang dilakukan lewat dunia maya dengan korban yang begitu banyak. Dan masih banyak lagi cerita sedih dan bentuk kejahatan cyber lainnya. Kemajuan dunia TI adalah sebuah keniscayaan, seiring dengan perkembangan jaman. Ia tidak bisa ditolak, apalagi diputar lagi ke belakang. Yang perlu diketahui adalah bahwa pada mulanya semua dicipta dengan maksud baik, untuk mendukung dan memudahkan kehidupan ini. Lihatlah cara hidup orang jaman sekarang. Jarak bukan lagi masalah. Mereka bisa saling berhubungan di mana saja berada. Ada sambungan telepon yang siap setiap saat untuk berhubungan. Suami yang jauh bisa bercakap dengan istrinya di rumah. Anak dirantau bisa ‘berkunjung’ kepada orang tuanya. Tanpa bersusah payah. Cukup tekan tut – tut kecil ponselnya. Mereka semua terhubung. Silaturahim jalan. Ada internet yang siap menghantar ke segala arah. Mencari teman, bisnis ataupun urusan lain yang bermanfaat, seperti mengaji/mencari ilmu dan urusan ibadah lain tentunya. Semua kelihatan mudah dan gampang karena dukungan TI ini. Cara kerja juga berubah. Orang bisa bekerja tanpa keluar rumah. Cukup dengan internet dan telepon. Bahkan dalam perjalalan kemana pun masih bisa melakukan rutinitas kerja tanpa harus berada di ruang kerja. Dapat mengontrol dan melakukan perintah kepada bawahan maupun meeting dengan rekan kerja. Sungguh mengagumkan manfaat yang diberikan TI ini. Namun, tanpa sadar mulai timbul ketergantungan pada TI ini. Rasanya hidup jadi berat tanpanya. Dan dari ketergantungan inilah mulai timbul sebentuk pelampiasan berupa penyalahgunaan. Bagai dua sisi mata uang, selalu saja ada hal negatif dari sebuah penemuan. Tak terlepas TI ini. Jaman dulu, anak ketahuan pacaran karena ada yang ngapeli setiap malam minggunya. Sekarang dari kamar saja mereka bisa chatting atau sms-smsan dengan bahasa yang lebih vulgar dan berani tanpa halangan. Jadi tidak salah kalau ada fatwa berkenaan dengan efek negatif ini, seperti dilarang fb-an, twitteran, sms-smsan dan sejenisnya. Ini adalah salah satu cara menghindarkan manusia menjadi korban ciptaannya sendiri. Namun ada satu cara lagi yang perlu dilakukan seiring dengan hal ini, yaitu perlunya pencerahan bagaimana menggunakan TI ini sebaik mungkin. Sebab kalau mau jujur, manfaatnya lebih banyak ketimbang mudhorotnya, sesuai dengan tujuan awal diciptakan. Adapun pencerahan yang dimaksud adalah, yang pertama, memahami bahwa fungsi TI yang paling tradisional dan mendasar yaitu supporting function (fungsi pendukung). TI diciptakan untuk mendukung, mempercepat dan memudahkan kerja manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Bukan sebagai penghambat. Yang kedua adalah automating. Banyak pekerjaan yang dilakukan dengan otomatisasi karena dukungan perangkat TI. Cukup dengan set program dan mesin akan jalan sesuai kemauan kita. Dengan otomasi ini harapannya manusia punya waktu lebih untuk urusan lain yang berguna. Yang ketiga adalah informating yaitu merubah atau menyempurnakan apa yang perlu dirubah sampai ke detail – detailnya yang dulu tidak bisa dilakukan dan butuh waktu lama. Sampai di sini fungsi TI masih sangat bermanfaat banyak bagi manusia. Seakan tak ada efeknya. Namun setelah melewati 3 hal ini timbulah yang keempat yaitu yang bertajuk reformatting, dimana TI memformat ulang penggunanya sehingga timbul ketergantungan luar biasa kepadanya. Tahap keempat ini harus diwaspadai betul agar terhindar dari efek malfunctionnya. Sadar tidak sadar semua sedang dirubah secara meyakinkan oleh TI. Dalam totalitasnya, TI sudah menjadi serangkaian perangkat yang sedang membuat kita. Tanpa kesiapan yang memadai, merekalah yang akan menguasai kita. Bukan tidak mungkin, kalau suatu saat TI akan menjadi pemerintah komunitas manusia yang telah membuatnya. Tahap kelima atau terakhir yaitu enlightening function of IT. Di mana, TI tidak saja perlu kita ‘nikahi’, tetapi juga digunakan sebagai sumber-sumber yang bisa mencerahkan hidup dan kehidupan. TI diupayakan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan. Ambillah manfaat sebesar – besarnya dan tinggalkan sekecil apapun kejelekannya. Jangan terbuai dan terjerembab dalam keterperdayaannya. Seperti lupa waktu, lupa ibadah, lupa diri, sumber kejahatan dan hal – hal lain yang useless. Hadirkanlah hal – hal yang mencerahkan. Seyogyanya kemanjaan-kemanjaan yang dihadirkan TI bisa memberi kita banyak waktu untuk keluarga, pergi ke mesjid, untuk melakukan ibadah, datang ke pengajian dan kegiatan amal lainnya. Dengan menempatkan TI sebagai enlightening technology, ia akan berfungsi sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan-tujuan hidup yang mencerahkan. Dan yang lebih penting lagi, dengan cara ini, manusia bisa mengurangi kemungkinan menjadi budak teknologi, suatu kondisi dimana manusia dibuat ulang, diformat ulang oleh mesin-mesin yang bernama teknologi yang dibuatnya sendiri. Sebab manusia adalah khalifatul ardh. Allah berfirman; “Dia-lah yang menjadikan kamu sebagai khalifah di muka bumi ini.” (QS Faathir 39). Jadi, ingatlah status ini. Jangan kesampingkan amanat Allah. Bagaimanapun kitalah yang harus dilayani teknologi bukan kita yang menyerah – pasrah – melayani dan diformat ulang oleh teknologi. Gitu bro…! Semoga bermanfaat. Fami |
Go to page >>
BERITA TERAKHIR |
|||||||||
|
|
#Jokam Community Website 








