<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
				<!-- generator="e107" -->
				<!-- content type="News" -->
				<rss  version="2.0">
				<channel>
				<title>#Jokam Community Website : News</title>
				<link>http://www.jokam.com/</link>
				<description>Jokam, LDII, Lembaga Dakwah Islam Indonesia, Aplikasi, Forum, milisjokam, teras_jokam, manshurin, bisnis_jokam, php, php classes, script</description>

<language>en-gb</language>
				<copyright>All trademarks are � their respective owners,all other content is � #Jokam Website.� 2003 - 2005 <a href="http/www.jokam.com">#Jokam Website</a>.Untuk pertanyaan, silakan hubungi <a href="mailto:webmaster@jokam.com"><font color="#FF0000">webmaster@jokam.com </font></a>powered by <font color="#FF0000"><http/e107.org">e107</a></font></copyright>
				<managingEditor>webmaster@nospam.com (webmaster)</managingEditor>
				<webMaster>webmaster@nospam.com (webmaster)</webMaster>
				<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 09:04:42 -0500</pubDate>
				<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 09:04:42 -0500</lastBuildDate>
				<docs>http://backend.userland.com/rss</docs>
				<generator>e107 (http://e107.org)</generator>
				<ttl>60</ttl>
					<image>
					<title>#Jokam Community Website : News</title>
					<url>http://jokam.com/e107_images/button.png</url>
					<link>http://www.jokam.com/</link>
					<width>88</width>
					<height>31</height>
					<description>Jokam, LDII, Lembaga Dakwah Islam Indonesia, Aplikasi, Forum, milisjokam, teras_jokam, manshurin, bisnis_jokam, php, php classes, script</description>
					</image>
						<item>
						<title>Celoteh : Merdeka</title>
<link>http://jokam.com/news.php?item.744.13</link>
<description><![CDATA[Rasanya ada sesuatu yang special di bulan puasa kali ini. Dan semua kita tahu, bahwa di sela – sela puasa ada perayaan hari kemerdekaan negeri kita tercinta. Tepatnya tanggal 17 Agustus. Dan seperti terpampang banyak di pinggir – pinggir jalan, di gedung – gedung, di gapura gang – gang tersebut bahwa tahun ini adalah hari jadi ke 65 NKRI. Menilik usia, jika diibaratkan dengan perjalanan seorang anak manusia adalah usia senja. 65 adalah usia mendekati ajal. Tetapi tidak dengan perjalanan sebuah negeri. Ia bisa seperti seumur jagung untuk meraih kejayaan dan kemakmuran. Tetapi, bisa juga sebuah tahun kehancuran jika kita sebagai anak bangsa tidak mengisinya dengan baik dan benar.<br /> <br /><br />Pada sebuah acara pelatihan kepribadin yang diberikan kepada para sopir taksi diumumkan bahwa dalam rangka penghematan semua peserta diharapkan membawa bekal makan siang masing – masing. Pelatihannya sendiri bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada penumpang – yang sering disebut servise excellence. Hadirlah para sopir dengan antusias. Mereka membawa bekal terbaik dari rumah masing – masing. Para istri menyediakan kudapan favorit buat para suaminya. Bekal yang enak. Maklum kepala keluarga yang harus dimulyakan. Namun ketika acara tengah berlangsung dan tiba makan siang, sang instruktur memberikan komando  agar semua bontot yang dibawa dari rumah harap diletakkan di atas meja masing – masing. Selanjutnya, silahkan tukarkan, saling tukar bekal dengan teman sebelahnya. Suasana pun jadi riuh – rendah. Kebanyakan para peserta pelatihan menyesal dan berat hati memberikan bekal terbaiknya ke teman sebelahnya. Itulah kesan di hari pertama.<br /> <br /><br />Mengantisipasi kejadian di hari pertama, para peserta pelatihan berkeluh kesah panjang – lebar suasana pelatihan kepada isterinya, seraya berpesan agar dibawakan bekal apa adanya. Bekal yang nggak enak, tentunya. Sebab buat apa bawa yang enak – enak toh yang menikmati orang lain, bukan untuk dirinya. Itulah penjelasan yang diberikan kepada sang isteri. Dan suasana pelatihan pun berjalan seperti biasanya, sampai waktu yang ditunggu – tunggu tiba, yaitu makan siang. Namun, apa yang terjadi, instruktur memerintahkan untuk memakan bekal yang dibawa masing – masing. Bukan diberikan kepada yang lain. Banyak peserta yang nggrundel lagi dengan keadaan yang ada, karena tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Situasinya laksana senjata makan tuan.<br /><br /><br />Di hari terakhir pelatihan, semua peserta baru sadar, atau tepatnya terpaksa sadar dengan keadan yang ada - dan memerintahkan kepada isterinya untuk membawa bekal terbaik. Kalaulah nanti dibagikan seperti hari pertama, dia bisa memberi yang terbaik buat orang lain. Namun jika tidak, maka dia bisa menyantap hidangan terbaik buat dirinya. Ada perasaan “merdeka” dalam diri mereka menyambut segala keadaan yang ada. Sebab sudah menyiapkan hal terbaik yang mereka bisa. Itulah inti service excellencenya.<br /> <br /><br />Mumpung, di bulan suci mari sucikan hati. Mumpung di bulan puasa, mari meretas asa. Hidupkanlah kemerdekaan diri ini dalam hal yang bersahaja. Tak perlu memikirkan negara. Tak perlu memikirkan politik. Tak perlu memikirkan tetangga dan masyarakat pada umumnya. Tak perlu muluk – muluk. Cukup merdekakanlah diri sendiri ini seperti cerita singkat di atas tadi.<br /><br /><br />Kita sudah lama merdeka. Sudah 65 tahun. Tapi apa yang kita lakukan sampai saat ini untuk mengisinya. Banyak orang yang belum merdeka dari hawa nafsunya. Banyak orang yang belum merdeka dari keterikatannya. Banyak orang yang belum merdeka menyambut kehadiran teman atau sekelilingnya. Yang ada hanya persaingan dan pertengkaran yang terus mendera. Buat apa merdeka, kalau kita tidak memiliki kemerdekaan diri yang sebenarnya. Yaitu, mampu memberikan yang terbaik kepada orang lain seperti memberi yang terbaik kepada diri sendiri. Banyak orang yang menganggap memiliki kemerdekaan tetapi merampas kemerdekaan orang lain. Dalam lapar yang dalam dan menuju arti merdeka sesungguhnya renungkanlah kembali ayat berikut ini.<br /> <br /><br />Allah berfirman: “<strong class='bbcode bold'>Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji</strong>”. (Al – Baqoroh 267)<br /> <br /><br />Dan untuk menghilangkan rasa dahaga diri patut didalami kembali ayat yang penuh makna ini, “<strong class='bbcode bold'>Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya</strong>. (Ali Imron: 92)<br /><br /><br />Dalam hening puasa kali ini, renungkanlah kembali diri masing – masing. Saat yang pas untuk reorientasi pemahaman dan pengertian, sampai di mana diri ini melangkah, demi hal mendasar dalam diri ini.  Kemerdekaan bukan hanya pasang bendera. Kemerdekaan bukan sekedar upacara. Kemerdekaan boleh datang dan pergi, tetapi ketika telah memiliki kemerdekaan hakiki, yang ada hanya keindahan dan kebahagiaan yang melampaui kemerdekaan itu sendiri. Dan itu akan benar – benar berarti ketika setiap diri berhasil mengabdikan yang terbaik buat negeri dan orang lain seperti berbuat baik terhadap diri sendiri. Akhir kata, dirgahayu RI ke 65 dan dirgahayu bagi diri yang telah memiliki kemerdekaannya.<br /><br /><br />Semoga bermanfaat,<br />Fami]]></description>
<author>ich@nospam.com (Ichmaster)</author>
<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 12:34:44 -0500</pubDate>
<guid isPermaLink="true">http://jokam.com/news.php?item.744.13</guid>
</item>
						<item>
						<title>Andaikan Saya Yang Dicoba ...</title>
<link>http://jokam.com/news.php?item.743.6</link>
<description><![CDATA[Ini adalah kisah nyata dari Faradhita dan sahabatnya seorang pengusaha hiburan, pendukung dan donatur abadi Rumah Yatim Indonesia seorang Helmy Yahya...<br /><br />Saat itu bulan ramadhan . Aku berada di Palembang bersama mitraku, Helmy yahya. Kami sedang melakukan perjalanan untuk bertemu dengan maestro pujaanku, untuk sebuah pekerjaan idealis. Kami akan bertemu dengan pengarang lagu anak legendaris , AT Mahmud.<br /><br />Terdengar bunyi telpon yang langsung diangkat helmy dengan speaker mode.."boz, kita belum dapat talent buat acara naik haji gratis.."suara di seberang telpon terdengar galau. "Kok bisa?, "helmy berkata dengan nada tinggi, "sudah 3 hari shooting kok bisa gak nemu?". Setelah itu helmy diam mendengarkan argumen dari teamnya yang panjang. Wajahnya memerah. Bibirnya merapat dan jari tangannya didekatkan dan di gigit. Itu kebiasaanya kalau panik.<br /><br />"Untung lagi di palembang, saya gak tau kalau ada anak triwarsana disini. Kita ke tempat shooting dulu", demikian sebuah kata terucap dari mulutnya dan setelah itu diam. Setiba di lokasi, sebuah rumah yang disewa sebagai tempat tersembunyi dari hidden kamera yang sedang menguji kelayakan seorang talent untuk berangkat di hajikan gratis sesuai thema acara tersebut.<br /><br />Helmy memiliki standard yang ketat. Seseorang tersebut bukan "layak" bukan karena rekomendasi dari orang lain saja tapi dia harus lulus test. Ini memang memakan biaya, memang memakan waktu. Tapi inilah kesempurnaan yang menjadi cirinya.<br /><br />"Mana data shooting talent hidden kamera", kemarin kemarin katanya lagi. Dalam sekejap kami menyaksikan video rekaman para talent tersebut di test berbagai cara. Dengan hidden kamera kita memperhatikan. Ustad ini, bapak anu, ujung2nya tidak ada yang layak. Lalu..saya disuruh menilai. "Faradhita..kamu lihat tuh yang ditest pas sebelum jumatan..dua ustad..,"helmy keluar dengan muka merah. Aku menurut perintahnya dan menyaksikan.<br /><br />Biasa kami menggunakan penguji si rini, specialis penguji. Cantik, dewasa, anggun. Lengkap dengan jilbab dan kerendahan hatinya. Dia melakukan aksi ujiannya. Di depan ustad yang dimaksud dia datang jam 11.30, lalu berkata," saya ada masalah dengan perkawinan, suami saya.." dan seterusnya dia bercerita sangat meyakinkan.<br /><br />Sang ustad talent mulai berdalih, mulai mewejang, dan menyaksikan adegan tersebut... aku sebagai wanita tahu sekali mimik wajah dan gerak mata seseorang yang ber"minat". Darahku naik.."kok begini sih?"..ini orang yang terpandang didaerahnya yang direkomendasi banyak orang. Menggeser duduknya dekat-dekat si rini. Hidden kamera menangkap seluruh adegan dengan jelas. Dan yang mengherankan...dia abaikan sholat jumat. Huh..hilang sudah rasa di hati, dasar buaya", aku berkata dalam hati.<br /><br />Di video satunya. Setali tiga uang sama saja, malah pake pegang-pegang pundak si rini. Setiap berapa kalimat menyentuh apalah bagian tubuh si rini, tangan, seperti menepis kotoran dari jilbab, yang rasanya gak ada apa-apanya. Darah emosiku memuncak. "Gile nih..sama aja..dasar bandot semua".,Aku mendadak sangat marah. Aku wanita, tahu banget niat laki-laki macam itu,emosi banget.<br /><br />Aku keluar ruang. Helmy nafasnya turun naik dengan cepat. "Gila nih..besok harus naik tayang jam 4 sore belum ada talent. Dimana rini?".<br /><br />"Lagi ada talent, deket sini pak," seorang staf triwarsana menjawab.<br /><br />"Nih, lagi kita test. Live tuh di ruang belakang". bergegas kami melihat. Seluruh krew berharap harap cemas. Muka semuanya tegang. "Jauh ga k dari sini", tanyaku. "Engak mbak, paling 500 meter", Jawab manajer helmy, ibrahim. "Siapa dia",tanyaku lagi.."dia guru bahasa indonesia, kalo sore ngajar ngaji". "Oh..",jawabku singkat.<br /><br />Dalam monitor.Terlihat seorang bapak sedang duduk, kelelahan. Habis mengajar ngaji dia. Di masjid. Masuk si rini. Dengan gaya nya yang meyakinkan dia berkata," pak, saya ada anak angkat usianya 8 tahun kelas 2 SD. Saya sudah tidak kuat merawatnya". Dipotongnya kalimat ditambah emosinya.."nakal banget pak. Saya mau buang, saya mau kasih bapak saja." Si rini menyelesaikan kalimatnya dengan muka memerah. Dan membetulkan jilbabnya. Sehingga seluruh lekuk tuhnya sengaja terbentuk kesan seksi.<br /><br />Sang bapak membuang muka, kemudian menunduk sambil menjawab, "aku terima ".."maksud bapak?", Kata rini lagi.<br />"Ya , sini anak itu, aku rawat dia, ini pasti kehendak Allah. Aku ikhlas", Dia menjawab sambil tetap menundukkan wajahnya.<br />Muka rini yang terlihat gugup, "boleh saya beri anak itu hari ini? Rumah kami jauh di tujuh ulu", rini menambahkan bobot ceritanya.<br />Sang bapak memiringkan pantatnya, di rogoh sakunya, ada uang ribuan berlembar-lembar..kira-kira 15 lembah dia berkata," uangku hanya segini".diberikan ke rini semua.."kamu ambil angkot bawa anak itu kemari..",tuturnya dengan santun.<br />Setiap adegan itu kami saksikan dengan tegang, bahkan penduduk sekitar mulai menggerombol ditempat kami. Sesak udara ruangan monitor. "Ayo kita kesana, full kamera", kata helmy memecah ketegangan.<br /><br />Bergegas kami berangkat. Penduduk sekitar mengikuti gerak krew sebanyak 15 orang 3 kamera, 2 sound boom. Sangat menarik perhatian warga kampung sekitar. Setiba kami di lokasi masjid. Kamera langsung keluar dari segala penjuru. Sang bapak terkejut. Wajahnya bingung. Kemudian helmy yahya muncul dengan mengatakan," alhamdulillah bapak dapat hadiah naik haji gratis!"<br /><br />Sang bapak terkejut bukan main..wajahnya tergetar..giginya bergemerutuk..tak bisa berkata-kata. Bersujud disajadah berkali-kali. Dan selang beberapa menit hadir penduk sekita kira-kira 5000an warga kampung sekitar tersebut tanpa komando mengumandangkan, "Labaik allauhumma labaik.." 5000 orang lebih meneriakkan kata-kata tersebut berulang..bergetar kami semua.<br /><br />Airmataku turun tanpa sebab..aku bertanya pada seorang ibu berdiri sambil menangis.."siapa dia bu? ",Tanyaku.<br /><br />."oh dia pak Rahmat. Dia guru bahasa indoneia di SD sini. Setiap bulan dia memberikan setengah dari gajihnya untuk membayar anak-anak dengan permen dengan apapun supaya mereka mau mengaji", jawab sang ibu sambil menggendok anaknya yang sudah agak besar.<br /><br />"Setengah? ",Aku terperanjat<br /><br />"Iya mbak", lanjut ibu tadi, "Dan itu dia sudah lakukan 25 tahun kira-kira, saya adalah muridnya pertama-tama, karena sangat miskin kami tak sanggup belajar tapi dia membimbing kami. Sekarangpun anak ku belajar ngaji sama pak rahmat. Dan masih diberi bonus hadiah supaya rajin mengaji".<br /><br />Aku tersentak. Aku menyaksikan seorang bapak, yang lagi dipakaikan kain ihrom. Di kumandangkan talbiah, labaik Allamulabaik oleh separuh warga kampung yang mencintainya..di arak beramai-ramai dari masjid kerumahnya.<br /><br />Tempat kediamannya berjarak 200 meter dari masjid. Untuk dipamitkan dan mohon izin ke sang istri. Setiba dirumah yang masih beralas tanah..sepasang suami istri renta berpelukan..aku masih mendengar sang bapak berkata," Allah mengabulkan doa kita bu..aku berhaji..aku yang miskin ini berhaji...suaranya lirih..mohon izin ya ..."<br /><br />Tersungkur di tanah aku sambil mendengar kata-katanya.."Terima kasih Allah..terima kasih..masih ada orang seperti pak Rahmat engkau sisakan untuk kami...." tak henti-henti aku bersyukur.<br /><br />Catatan : sekarang pak Ustad Rahmat mengelola RYI di Kupang NTT , Jl Tablolong KM 11 kel. Batake, kupang barat]]></description>
<author>ich@nospam.com (Ichmaster)</author>
<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 12:29:46 -0500</pubDate>
<guid isPermaLink="true">http://jokam.com/news.php?item.743.6</guid>
</item>
						<item>
						<title>Alloh Akan Memberimu</title>
<link>http://jokam.com/news.php?item.742.13</link>
<description><![CDATA[Ketika membaca kisah ini, saya sempat tak kuasa meneruskan membacanya...<br />Saya tak kuasa membayangkan akan 'nikmat' tsb<br /><br />Di sini saya hanya ingin berbagi dengan saudara semua,<br />akan sebuah kisah yang dialami oleh sahabat Rosululloh SAW,<br />terutama pada kalimat yang sy garis bawahi.<br /><br />Semoga bermanfaat<br /><br />****<br /><br />Rosululloh SAW bertanya kepada jabir: <br />"Jabir, aku belum pernah melihatmu murung seperti ini,"<br /><br />"Ayahku mati syahid dan meninggalkan keluarga serta agama" jawab Jabir<br /><br />"maukah kau aku beritahukan kabar gembira tentang nikmat yang didapatkan ayahmu?"<br /><br />"tentu saja, Rosululloh"<br /><br />"Alloh tidak pernah berbicara kecuali dari balik tabir. <span class='bbcode underline' style='text-decoration:underline'>Tapi Alloh menghidupkan dan mengajak ayahmu berbicara secara berhadap-hadapan</span>. <br />Alloh berfirman: 'Hambaku, berharaplah kepada-Ku, karena Aku akan memberimu'<br />Ayahmu berkata: 'Ya Alloh, aku memohon agar Engkau menghidupkanku lagi shg aku bisa terbunuh di jalan-Mu untuk kedua kalinya'<br /><br />dst...<br /><br />(HR Tirmidzi)<br /><br />Post by : Chasan Rome]]></description>
<author>ich@nospam.com (Ichmaster)</author>
<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 09:57:44 -0500</pubDate>
<guid isPermaLink="true">http://jokam.com/news.php?item.742.13</guid>
</item>
						<item>
						<title>reflection</title>
<link>http://jokam.com/news.php?item.740.14</link>
<description><![CDATA[assalammualaikum wr. wb<br /><br />Tak ada yg pernah tau berapa lama kita akan hidup di dunia ini. Tak ada seorangpun yang bisa menerka jatah yang Alloh berikan untuk menikmati semua nikmat dunia baik itu nikmat sakit maupun nikmat senang. Namun berapapun lamanya pada akhirnya semua akan kembali pada-Nya. Tapi pernahkah terfikirkan oleh kita bagaimana nanti akhirnya?. Ketika sampai pada waktunya jatah kita habis, tak ada yang tersisa selain kenangan bagi mereka yang kita tinggalkan. Namun kenangan pun akan memudar seiring berjalannya waktu. <br /><br />Ibu yang meninggalkan anak-anaknya atau ayah yang meninggalkan anak-anaknya atau bahkan anak-anak yang meninggalkan orang tuanya. Semua hanya kenangan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun, akhirnya hanya tinggal kesadaran kemana perginya semua itu. Akan muncul pertanyaan dalam benak kita, apakah kita pernah memiliki mereka? Jawabannya tentu “pernah”. Tapi semua itu rasanya sudah sangat jauh dari kita. <br /><br />Bila mengingat mereka yang telah pergi, terfikirkan oleh kita bahwa suatu saat kita akan seperti mereka. Tapi kapan? Hanya Alloh yang tau. Lalu sambil menunggu waktu itu datang, apa yang kita lakukan? Bersenang-senang memanfaatkan sisa waktu yang ada dengan alasan “mumpung masih hidup”? terlalu ngoyo mengejar dunia. Atau mempersiapkan diri sampai waktunya tiba? Tapi sejauh apakah persiapan itu? Walaupun kadang kita merasa amal ibadah kita sudah cukup, tapi apakah menurut Alloh juga sudah cukup? Diri ini pasti pernah salah, pernah khilaf, pernah brdosa. <br /><br />Diri ini juga pasti pernah bertobat, semua itu adalah usaha kita untuk mendapatkan ampunan Alloh, lalu masihkah kita berlengah?menunda-nunda apa yang bisa kita kerjakan sekarang? Terkadang diri ini terasa lelah, muncullah kata “nanti”, “nanti” dan “nanti”, namun tanpa disadari ternyata sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya karena kita menuruti rasa lelah kita.<br /><br />Ketika kesadaran menerpa kita, semua sudah terlambat,  yang ada hanya penyesalan, lalu muncul dalam angan-angan “kalau saja bisa memutar balik waktu”. itu juga yang terfikirkan ketika kita mengingat ayah atau ibu kita yang sudah meninggalkan kita, kalau bisa memutar waktu, akan kita perlakukan orang tua kita lebih baik lagi dari yang pernah kita lakukan. Tapi penyesalan memang datang di akhir. <br /><br />Berbahagialah bagi mereka yang masih memiliki ibu dan ayah, kakak atau adik, atau bahkan semua yang disayangi dan menyayangi kita. Manfaatkan waktu yang ada, karena ketika salah satu telah tiada, yang ada hanyalah penyesalan dan semua tinggal kenangan akan kasih sayang mereka.<br /><br />Tidak akan cukup umur kita untuk mengalami semua pengalaman hidup. Selain karena masing-masing diri kita sudah Alloh tentukan jalan hidupnya. Tapi kita punya kesempatan untuk belajar dari pengalaman hidup orang lain. Selalu berusaha belajar menempatkan diri pada posisi orang lain, bila itu menyakitkan kita, mungkin itu juga menyakitkan orang tersebut. ketika kita ingin menyakiti seseorang, berfikirlah, bagaimna kalau kita yang mendapatkan perlakuan seperti itu? Sakit?...tapi terkadang tanpa sengaja kita menyakiti seseorang, namun paling tidak kita sudah berusaha untuk tidak menyakiti.<br /><br />semoga bermanfaat<br />mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan.<br />alhamdulillah jazakumullohu khoiro<br /><br />wassalammualaikum wr. wb<br /><br /><br />[<strong class='bbcode bold'>Submitted by ela</strong>]]]></description>
<author>webmaster@nospam.com (webmaster)</author>
<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 22:02:53 -0500</pubDate>
<guid isPermaLink="true">http://jokam.com/news.php?item.740.14</guid>
</item>
						<item>
						<title>TAEK MBONJROT (jangan salah niat)....</title>
<link>http://jokam.com/news.php?item.739.14</link>
<description><![CDATA[Ada seorang tamu yang kelihatannya lusuh datang ke suatu desa.<br />Melihat lusuhnya tamu ini, tentu saja menjadikan penduduk desa risih.<br />Tamu ini bermaksud bermalam di desa itu, mengingat perjalananya jauh,<br />jadi musti menginap di perjalanan.<br />Orang-orang desa tersebut menutup pintu terhadap keberadaan tamu<br />tersebut. Namun tentu saja tidak semua orang.<br />Ada seorang penduduk desa yang berhati emas, beliau cukup bersahaja,<br />dan terbuka. Penduduk desa ini menerima keadaan tamu yang lusuh ini<br />untuk menginap di desa tersebut.<br /><br />Mengingat ajaran Islam untuk memuliakan tamu, maka dihormatilah tamu tersebut,<br />sebagaimana layaknya tamu biasa lainnya. Dilayani, diberikan tempat<br />tidur di kamar,<br />bahkan diberi makan malam yang memang diusahakan dicari-carikan di<br />warung setempat ,<br />tujuannya adalah memuliakan tamu.<br /><br />Tiba pada suatu malam, tamu tersebut mendadak ingin buang hajat /<br />buang air besar / modol / berak,<br />perutnya rada sakit karena mungkin tadi hidangannya ada sedikit pedas.<br />"Wah, pak, perut saya mulas-mulas, di sini ada kamar kecil gak, saya<br />ingin buang hajat nih ..." , kata si tamu.<br />Kebiasaan penduduk desa tersebut adalah MCK nya di sungai terdekat<br />(penduduk desa ini termasuk orang miskin, jadi tidak punya Kamar Mandi<br />/ WC sendiri),<br />namun mengingat sudah malam gelap gulita, mungkin juga ada binatang2 berbahaya,<br />maka hal itu menjadikan kesulitan bagi tamu tersebut.<br /><br />"Gini aja pak, silakan berak di kamar saja, besok pagi akan saya<br />bersihkan pak, ndak papa," bgitu kata si empunya rumah.<br />"Woh, gitu ya pak, gak enak nih ama bapak, merepotkan saja , maaf ya<br />pak", kata si tamu.<br />"Don't mention it, gak usah sungkan-sungkan pak, sungai rada jauh,<br />daripada nanti bapak tergelincir ke jurang", kata si empunya rumah.<br /><br />Beraklah si tamu tersebut di kamar.<br />Keesokan harinya, tamu tersebut mohon pamit pada penduduk desa tersebut.<br />Setelah tamu itu pergi, si penduduk desa itu berusaha mencari kotoran tadi,<br />tapi tidak diketemukan. Dicari-cari tidak bisa diketemukan,namuan<br />malah menemukan gundukan emas di pojokan kamar.<br />BErita ini menjadikan kehebohan di seluruh penjuru desa.<br /><br />Penduduk Desa lain tentu saja menyesal dan iri pada tetangganya yang<br />mendapatkan emas tadi.<br /><br />-----<br />Di waktu setelah itu, bbrp minggu kemudian, ada tamu yang juga lusuh<br />datang ke desa tersebut.<br />Penduduk Desa ini ingat tetangganya pernah menjamu tamu tersebut dan<br />mendapatkan emas,<br />maka dia berharap untuk bisa mendapatkan emas seperti tetangganya.<br /><br />Maka dia menerima dengan gembira ria tamu tersebut, bahkan sempat<br />beradu mulut dengan tetangga yang lain,<br />berebut untuk mempersilakan menginap.<br />Tamu tersebut dipersiapkan kamar khusus yang bagus.<br />Bahkan tamu tersebut juga dijamu dengan makanan yang cukup mewah,tentu<br />saja yang semakin lebih pedas dari tetangganya,<br />dengan harapan tamu tersebut di malam harinya akan mulas mulas. Wes<br />pokoknya ada tongseng , sate , gule , tengkleng segala.<br /><br />Benar perkiraan si empunya rumah, pada malam hari si tamu tersebut<br />mulas-mulas dan minta ijin ke kamar kecil.<br />Sebenarnya si empunya rumah ini cukup kaya, punya beberapa kamar<br />mandi, tapi dia mempersilakan tamu tersbeut untuk berak di kamarnya.<br /><br />"sudah pak, berak di kamar saja pak, gak papa, besok saya bersihkan<br />... ", begitu kata si empunya rumah.<br /><br />Keesokan paginya, seperti biasa si tamu itu mohon pamit pada si empunya rumah.<br /><br />Seperginya tamu tersebut, si empunya rumah segera lari ke kamar bekas<br />si tamu tadi malam,<br />dan berusaha mencari2 brangkali ditemukan gundukan emas..<br /><br />Namun ternyata sodara2 tidak ada emas sedikitpun,<br />yang ada hanyalah TAEK MBONJROT ...bekas makanan pedas2 plus sate,<br />gule , tongseng tadi malam..<br /><br />Itulah balada TAEK MBONJROT,<br />yang akan diterima orang yang ukan mencari pahala, namun ada udang di<br />balik batu,<br />alias berharap mendapatkan harta, bukan berusaha mendapatkan ganjaran<br />di sisi Alloh.<br /><br /><br />Write by Alpha Bagus Sunggono <bagusalfa[+]gmail.com> on milisjokam]]></description>
<author>webmaster@nospam.com (webmaster)</author>
<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 21:56:31 -0500</pubDate>
<guid isPermaLink="true">http://jokam.com/news.php?item.739.14</guid>
</item>
						<item>
						<title>Efek Samping BlackBerry</title>
<link>http://jokam.com/news.php?item.738.5</link>
<description><![CDATA[Efek Samping BlackBerry <br /><br />1. Sering diklaksonin orang lain, sampe disaranin pasang stiker di belakang motor/mobil "Harap sabar, BlackBerry User". <br /><br />2. Waktu BAB jadi tambah lama. Padahal isinya udah kosong tapi tetep aja nongkrong. <br /><br />3. Tidur miring nungguin pasangan sambil  di tangan. Kejar target ngabisin baca email. <br /><br />4. Suka gak jelas senyum-senyum sendiri. <br /><br />5. Gak konsen kerja/ngaji/ibadah yang lain (baca : Ng-4). <br /><br />6. Bangun pagi yang pertama dicari BlackBerry dulu bukan yang lain. <br /><br />7. Jadi jarang marah tapi jadi sering dimarahin orang karena diajak ngobrol gak nyambung. Termasuk dengan istri! <br /><br />8. Kalo di tempat umum suka panik nyari stop kontak. Batere sekarat. <br /><br />9. Sering lupa mencet tombol lift. Harusnya naik malah turun. Belum lagi kebablasan lantainya. <br /><br />10. Kalo ngantri di bank pake nomor antrian, pas dipanggil di speaker gak denger. Pas kepala liat monitor kaget. Waks! Harus ambil antrian ulang. Tapi tetep tenaaaaang. <br /><br />11. Langganan koran dan majalah (Nuansa?)masih tertumpuk rapi tak terbaca. <br /><br />12. Sering kejedug karena kalo jalan mata tertuju ke layar BlackBerry. <br /><br />13. Bikin tangan ga pernah kosong. Walaupun ga chatting, tetep aja BlackBerry di tangan! Ga bisa taro di kantong, tas.. uda settingannya gitu. BlackBerry kejahit di tangan <br /><br />14. Kalau ketinggalan dompetgak panik, bahkan mungkin pacar/istri ketinggalan? Santai, bisa naik Taksi sendiri. Tapi kalau ketinggalan blackberry, Gaswat! <br /><br />15. Ditanya no identitas, langsung nyebutin no PIN. <br /><br />16. Mau tidur, ganti status BlackBerry messenger: "Tidur dulu aahh...zzz.. .zzz." <br /><br />17. Mengalami kapalan di ujung jari. <br /><br />Pituah Al-ustadz : "BlackBerry® 'setan'? Tendang aja! <br /><br />---<br /><br />Diambil dari berbagai sumber.]]></description>
<author>ich@nospam.com (Ichmaster)</author>
<pubDate>Sat, 29 May 2010 17:03:49 -0500</pubDate>
<guid isPermaLink="true">http://jokam.com/news.php?item.738.5</guid>
</item>
						<item>
						<title>Bahagia (lagi)</title>
<link>http://jokam.com/news.php?item.737.14</link>
<description><![CDATA[Setelah kita tahu bahwa letak kebahagiaan itu ada di dalam (hati), selanjutnya yang harus dilakukan adalah memulai perjalanan ke dalam hati diri kita masing - masing. Namun sebelumnya simaklah pesan mantan Sekjen PBB, Dag Hammersjold, yang banyak melakukan perjalanan antarnegara dan antarbenua. Dia mengatakan; ''Perjalanan yang paling panjang dan paling melelahkan adalah perjalanan masuk ke dalam diri kita sendiri.'' Kalau di bahasa kita ada pepatah; Gajah di pelupuk mata tidak tampak, tapi kuman di seberang lautan nampak. Ada lagi pepatah mengatakan; Buruk muka cermin dibelah. Atau kata bijak yang lain; Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau dari rumput rumah sendiri. Ini menunjukkan bahwa memang untuk masuk dan melihat diri sendiri secara utuh itu sangat berat – tantangannya, dan dibutuhkan perjuangan yang panjang, baik menurut ukuran waktu dan lika – liku jalan yang harus ditempuh. Terlebih jika tidak mendapatkan bimbingan dari orang yang tepat dan petunjuk pelaksanaan yang jelas, oh niscaya gagal keprathal di tengah jalan, bahkan ketika baru memulainya.<br /><br /> <br />Untuk memulai perjalanan ke dalam hati prinsip pertama yang harus disadari adalah bahwa semua amal yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Ingatlah firman Allah dalam Surat Fushilat ayat 46 :Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) berat atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.<br /><br />Kita berbuat baik hasilnya akan kita petik nanti. Sebaliknnya jika kita berbuat jelek, maka hasilnya juga kita yang akan menuai nanti. Adapun orang lain ikut merasakan kebaikan yang kita perbuat, itu hanyalah efek samping. Bisa juga dikatakan sebagai lebihan atau cermin. Yang terpenting adalah bahwa hati kita merasakan kepuasan ketika kita bisa berbuat baik kepada orang lain. Hati merasa bahagia sebab kita bisa menyenangkan orang lain. Kebahagian mereka adalah kebahagiaan kita sebab kita hanya sebagai perantara saja. Tak lebih. Yang kita lihat adalah apa yang akan dirasakan hati kita. Tidak terbalik, kita malah mengharapkan balasan darinya. Atau merasa sombong dengan kebaikannya. Kalau bukan karena saya, oh pasti......... Karakter (lembah manah) seperti di atas akan didukung apabila kita bisa memiliki paradigma menjadi, bukan memiliki dalam keseluruhan hidup ini.<br /><br />Dalam kehidupan ada dua paradigma. Pertama, golongan "Memiliki", dan kedua aliran "Menjadi". Paradigma "Memiliki" dianut oleh kebanyakan orang.  Disini ukuran kesuksesan adalah apa yang kita miliki. Manusia dinilai dan menilai orang lain berdasarkan apa yang mereka miliki : harta, rumah, kendaraan, jabatan, pangkat, dan sebagainya. Paradigma Menjadi adalah paradigma yang melihat seseorang berdasarkan kualitas kemanusiaannya. Disini yang penting bukanlah apa yang kita miliki tetapi karakter kita, kepribadian dan pertumbuhan diri kita sendiri. Orang dengan paradigma Menjadi bukannya tak memiliki barang apapun. Ia juga memiliki sesuatu dan mencintai sesuatu itu, tetapi ada batasnya: ''Sesungguhnya dunia ini hijau dan manis, maka barang siapa yang mendapatkannya dengan baik, niscaya akan diberkati. Tapi, siapa yang mendapatkannya dengan cara berlebih-lebihan, niscaya tidak diberkati. Seperti layaknya orang yang makan dan makan, tanpa pernah merasa kenyang.''<br /><br /> <br /><br />Bedanya, ia tak terikat dan tergantung dengan sesuatu itu. Ia sadar bahwa kebahagiaan sejati hanya didapat dengan mencari ke dalam dirinya. Ia sadar bahwa apa yang dimilikinya hanyalah pinjaman yang suatu ketika akan kembali kepada pemiliknya yang sejati. Karena itu kehilangan sesuatu baginya bukanlah kehilangan segalanya. Jangan lupa, manusia disebut sebagai Human Being dan bukan Human Having!<br /><br />Paradigma "Memiliki" mempunyai beberapa kelemahan. Pertama, manusia takkan bahagia, karena akan selalu merasa kekurangan. Manusia terus dipacu untuk memiliki lebih banyak lagi. Manusia yakin akan bahagia bila semua keinginan Manusia terpenuhi. Padahal keinginan inilah yang membuat Manusia tegang dan frustasi. Manusia tak bahagia karena lebih memusatkan diri pada segala sesuatu yang tidak Manusia miliki dan bukannya pada apa yang telah Manusia miliki.<br /><br />Kedua, paradigma memiliki akan membuat Manusia dihantui ketakutan. Manusia takut kehilangan apa yang telah Manusia peroleh dengan susah payah. Bayangkan orang yang berani bersikap kritis. Coba beri ia jabatan. Biasanya keberanian dan daya kritisnya akan menurun. Mengapa? Karena kini ia sibuk dengan jabatannya. Ia sibuk melakukan apapun juga supaya jabatannya tak hilang. Ada guyonan, apa bedanya pejabat dengan guru? Kalau guru menyampaikan materi dalam presentasi dilakukan dengan posisi berdiri, sedangkan pejabat jika menyampaikan materi dilakukan dengan duduk. Mau tahu kenapa? Sebab takut hilang kursinya kalau ditinggal berdiri. Ketakutan kehilangan kekuasaan ini sebenarnya jauh lebih berbahaya ketimbang kekuasaan itu sendiri!<br /><br /><br />Ketiga, hidup kita akan stagnan. Terpenuhinya keinginan manusia paling-paling hanya membawa kesenangan sesaat. Begitu manusia memiliki sesuatu, penghargaan manusia pada sesuatu itu biasanya berkurang. Seorang lelaki tertarik  pada seorang gadis cantik, kemudian menikahinya. Lantas, apa lagi? Ini beda dengan paradigma "Menjadi". Manusia tetap bisa meningkatkan kualitas diri  menjadi suami yang makin baik dari waktu ke waktu. Paradigma "Menjadi" memang tak ada batasnya.<br /><br /> <br /><br />Jadi, mari kita sadari bersama bahwa langkah awal untuk bahagia adalah menyadari bahwa semua tindakan yang akan kita lakukan akan kembali bermuara pada diri kita masing - masing.<br /><br />Wassalamu'alaikum,<br /><br />Fami<br /><br /> <br />]]></description>
<author>ich@nospam.com (Ichmaster)</author>
<pubDate>Thu, 27 May 2010 14:55:27 -0500</pubDate>
<guid isPermaLink="true">http://jokam.com/news.php?item.737.14</guid>
</item>
						<item>
						<title>ALAY…4L4Y..</title>
<link>http://jokam.com/news.php?item.736.14</link>
<description><![CDATA[Assalamu Alaikum Wr.Wb..<br /><br />       Pada waktu siang hari,saya menerima SMS dari anak bungsu saya,satu satunya laki laki…saya buka tertulis  “<strong class='bbcode bold'>p4,4bi m4u kerJ4 k3lmpk d1 rMH Tm3n yA..pl4n6 53K0l4h tel4t</strong>”….Sambil mengernyitkan kening,saya ulang ulang membacanya,bahasa macam  apa lagi ini anakku…Akhirnya saya bisa menemukan kalimat yang dimaksud yaitu “P<strong class='bbcode bold'>a,abi mau kerja kelompok di rumah temen dulu ya,pulang sekolah telat</strong>”… Wadooh….sambil membalas saya bilang “kamu pake bahasa apa sich ke papa tulisannya ajaib gitu..”…Dia menjawab “ Akh papa mah gak tau bahasa alay tuh pak…gaul dong…hehe”.Apalagi alay ini,ternyata singkatan  Anak Lebay.. …Hmm..saya heran,orang udah seumur  gini masih harus ngikutin trend anak sekarang…Banyak anak muda yang suka kirim sms ke saya dengan berbagai singkatan seperti LOL.,dibawah tulisan sms nya..mula mula saya bingung ternyata artinya “Laugh out Loud” ,yang berarti pengirimnya tertawa ter pingkal pingkal….,ada juga GBU (God Bless U),atau OMG (Oh My God),ada ASAP atau RSVP….<br /><br />       Tapi ditengah kebingungan saya,tetap saya berusaha mengerti bahasa anak sekarang yang cenderung praktis,dan rada aneh…Memang saya berpikir kalau bahasa anak dan orang tua sudah gak nyambung,akibatnya bisa bisa anak kita lebih memilih teman mereka daripada asik dengan lingkungan di rumah atau pengajian..<br /><br />       Sebagai orang tua yang mempunyai  banyak anak,saya mengikuti dari tahun ke tahun perkembangan anak anak saya tentunya,lingkungan mereka,pengaruh mereka ,pada tiap dekade selalu berbeda…Saya berusaha menyamakan frekuensi dengan mereka,supaya suara mereka terdengar jelas di telinga saya maupun di hati saya…Mungkin kesalahan kebanyakan kita orang tua,adalah terlalu seringnya kita memberi muatan agama dan kebaikan,tapi bukan dengan frekuensi mereka,akibatnya mereka gak bisa nerima sepenuhnya,bahkan cenderung tidak mau dengar…. Jadi menurut saya penyamaan frekuensi kita dengan anak ini sangat perlu,paling tidak kita memahami bahasa mereka,lingkungan mereka,baru kita masuk dengan muatan kebaikan menurut agama,menurut orang tua,dan bisa sampe di hati anak muda maupun Pra Remaja.Gambaran sederhananya,kalau kita mencari gelombang radio saja harus pas jalur frekuensinya,baru suara terdengar bening dan jelas,dan enak di dengar,apalagi stereo…bisa jelegur..dan menghentak  hati,asalkan pas frekuensinya…<br /><br />       Kemarin ini saya terkejut dan terhenyak dengan fenomena anak pra remaja sekarang…Saya kebetulan menunggui pengajian Pra remaja di tempat saya…Sebelum saya memberikan pengarahan,saya meminta mereka menuliskan kebaikan mereka,dan kebodohan mereka selama ini,semua tanpa nama,dan diserahkan saat itu juga…ternyata hasilnya cukup membuat saya tercenung,kalau melihat kebaikan yang mereka perbuat,membuat saya lega hati,ada yang membantu ibu,mencuci baju,ada yang membantu ayah,memijiti ayah dan ibu,membantu ayah bekerja,membuatkan ayah minum,berpuasa sunah..membantu teman,menolong orang sedang kesulitan di jalan..dll,perbuatan yang baik…Tapi begitu saya membaca kebodohan mereka,membuat saya cukup terkejut,karena 80% laki laki dan 30% wanita  sudah pernah melihat video porno,pacaran,berciuman,melawan orang tua,bahkan ada yang menendang orang tua…mencuri uang orang tua,mencuri uang teman,berbohong dengan bilang mengaji semalam suntuk,padahal game online di warnet semalam suntuk..duh..mereka baru kelas 1-3 SMP….rasanya belum saatnya mereka seperti ini,bagaimana mereka yang sudah remaja dewasa??Masya Allah..Padahal mereka anak anaknya orang iman,hidup dan tumbuh dalam keimanan,tapi  pengaruh jaman gak terelakkan. Sambil mengelus dada,saya menasehati mereka,kebetulan saya mempunyai tayangan tayangan clip yang pas dengan apa yang mereka lakukan,dan tuliskan sendiri,jadi lumayan nyambung…dan sebagian mereka menangis melihat potret mereka sendiri di dalam tayangan itu…Saya berdoa semoga apa yang saya sampaikan mengena  di hati mereka,dan mereka mau merubah kebodohannya.Amin<br /><br />      Kembali ke soal frekuensi tadi,kembali saya merasakan perlunya kita menyamakan frekuensi kita dengan anak anak muda,remaja,bahkan cabe rawit,tentunya istri dan keluarga juga pasti,supaya sampailah apa yang di inginkan bersama…Buat  yang sudah mulai lanjut,tentunya harus  menyamakan frekuensi dengan Allah terus menerus,supaya pesan yang disampaikan Allah lewat kita,bisa kita pahami dan mengerti,dan bisa kita jadikan bahan untuk disampaikan kepada mereka yang membutuhkan…..termasuk kepada anak anak kita yang sedang kena pengaruh Alay..<br /><br /><strong class='bbcode bold'>54L4h 3j4 B1k1n B3ng0nG</strong><br /><br /> <br />Wassalamu Alaikum Wr.Wb<br /><br />Tito Irawan]]></description>
<author>ich@nospam.com (Ichmaster)</author>
<pubDate>Mon, 17 May 2010 16:50:05 -0500</pubDate>
<guid isPermaLink="true">http://jokam.com/news.php?item.736.14</guid>
</item>
						<item>
						<title>Kartini (ku)</title>
<link>http://jokam.com/news.php?item.734.13</link>
<description><![CDATA[Tak terasa, hari begitu cepat melaju melewati anak tangga hari di bulan April ini. Anak – anak saya yang masih SD sudah mempersiapkan diri untuk memperingati Hari Kartini. Sebuah upacara bendera, tanpa maksud dan makna yang mereka mengerti. Tahunya hanya sibuk menyiapkan diri. Sebab hari – hari yang lalu, kami melatih anak kedua saya bersiap menjadi komandan upacara. Ini pun sebuah tugas yang sepenuhnya belum dia mengerti. Jangankan dia, saya sendiri pun tersadar bahwa sebenarnya banyak hal yang saya tidak mengerti. Salah satunya apa sih makna peringatan Hari Kartini? Emansipasi? Poligami? Atau yang lainnya?<br /><br /> <br /><br />Daripada sibuk beradu lidah, berandai - andai, bersilang kata menyoal hal di atas, saya cenderung memilih jalan saya sendiri. Tanpa bermaksud mengurangi bingkai nilai luhur yang diusung oleh para pendahulu, saya hanya berfokus pada langkah kecil yang bisa saya lakukan untuk memulainya. Langkah sederhana itu adalah menyayangi istri. Kalau dulu sudah sayang, tentunya sekarang jadi lebih menyayanginya. Kalau memang sudah bahagia, berarti sekarang lebih berbahagia. Kalau sudah harmonis, tentu membuatnya lebih harmonis lagi. Darimana saya memulainya? Saya kembali pada saat pertama menjejakkan kaki dalam mahligai rumah tangga.<br /><br /> <br /><br />Dulu, istri adalah seorang gadis yang rela menyerahkan dirinya untuk diatur dan taat kepada saya sebagai suami. Kini, istri saya adalah seorang ibu yang telah melahirkan anak – anak. Buah dari ketaatan. Mengasuh, mengawasi dan mendidik mereka. Dulu istri adalah seorang gadis yang bertubuh indah dan menarik. Sekarang istri saya sudah ‘agak’ gemuk, seiring usia dan perjalannya dalam melahirkan anak – anak. Padahal dia masih pengin punya berat ideal. Tapi itu tak gampang karena harus menyusui. Menyesuaikan diri dengan asupan yang masuk dan diberikan. Dulu, istri saya sering kelihatan rapih dan resik ketika belum punya momongan. Memandang pun suka berlama – lama. Sekarang penampilannya ‘agak’ berkurang karena keadaan. Memandang pun tak bisa lama, karena banyak yang harus dikerjakan. Padahal dalam hatinya ingin sekali mendapat perhatian dari suami di tengah rasa capek dan kepenatan yang melanda. Harus mengurus anak, mengerjakan tugas keseharaiannya dan bekerja keras melayani suaminya. Dia ingin semuanya puas. Anak – anak senang, suami riang dan baru terakhir dia memikirkan dirinya.<br /><br /> <br /><br />Dari Tsauban ra., dia menuturkan, Tatkala turun ayat (Dan orang – orang yang menimbun emas dan perak) ia berkata, ‘Kami pernah bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, salah seorang sahabat Nabi bertanya, ‘Ia diturunkan berkenaan dengan emas dan perak. Kalau saja kami tahu harta mana yang lebih bagus, tentu kami mengambilnya.’ Maka Rasulullah SAW bersabda, “Yang paling utamanya (melebihi emas dan perak) adalah lisan yang selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur dan istri yang beriman yang membantu suaminya atas keimanannya.” (Rowahu Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)<br /><br /> <br /><br />Dalam situasi seperti inilah, saya ingin memberikan sedikit waktu, sedikit perhatian, sedikit sentuhan yang membuat dirinya benar – benar berbahagia atau bertambah bahagia. Bahagia menjadi seorang istri. Bahagia menjadi seorang ibu. Bahagia sebagai pengabdi bangsa. Dan bahagia juga sebagai anggota masyarakat dan anak bangsa. Dan yang tak kalah penting bahagia sebagai seorang perempuan - makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa di muka bumi ini. Maka menjelang Hari Kartini ini, saya ingin membuat suasana berbeda. Sebab tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang wanita, kecuali ketika suami mengerti atas dirinya, anak – anak bangga dan menurut dengannya, lingkungan mendukung keberadaannya dan alam semesta mendoakan dirinya. Dan Allah pun ridho  dan menerima semua amalannya.<br /><br /> <br /><br />Nah, menyambut Hari Kartini kali ini saya mengajak semua orang agar memulai langkah kecil, memperhatikan dan menyayangi, agar semua perempuan bangga atas keperempuanannya. Jadi, bukan emansipasi, poligami atau kesetaraan gender yang harus kita cakapi.<br /><br /> <br /><br />Rasulullah SAW bersabda; “Sebaik-baik kalian ialah orang yang paling baik perilakunya terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik dari kalian dalam memperlakukan istriku.” (HR. At Tirmidzi)<br /><br /> <br /><br />Di malam yang sunyi itu, sebelum ke peraduan, saya sempatkan menengok istri dan anak – anak saya. Alhamdulillah - lalu saya mendekat, kuamati dengan seksama wajah letih istri dalam tidurnya, ku belai rambutnya, ku kecup dan ku ucapkan: Jazaa killahu khoiro Kartiniku atas semuanya.<br /><br /> <br /><br />Wassalamu'alaikum,<br />Fami]]></description>
<author>ich@nospam.com (Ichmaster)</author>
<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 18:01:41 -0500</pubDate>
<guid isPermaLink="true">http://jokam.com/news.php?item.734.13</guid>
</item>
				</channel>
				</rss>